Surat-Al-Fatihah



[1:1] بسم الله الرحمن الرحيم
: Bismillahirrahmanirrahim
: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
: In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.

[ 1:2 ] الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
: El hamdü lillahi rabbil alemin
: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,
: Praise be to Allah, the Cherisher and Sustainer of the worlds;
                                                                             
[ 1:3 ] الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
: Er rahmanir rahıym
: Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,
: Master of the Day of Judgment.


[ 1:4 ] مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ
: Maliki yevmid din
: Yang menguasai hari pembalasan.
: Master of the Day of Judgment.


[ 1:5 ] إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
: İyyake na'büdü ve iyyake nesteıyn
: Hanya kepada Engkaulah kami menyembah danhanya kepada Engkaulah kami mohon   pertolongan
: Thee do we worship, and Thine aid we seek.


[ 1:6 ] اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
: İhdinas sıratal müstekıym
: Tunjukilah kami jalan yang lurus,
: Show us the straight way,

[ 1:7 ] صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
: Sıratallezine en'amte aleyhim ğayril mağdubi aleyhim ve lad
: (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkauanugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan)mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) merekayang sesat.
: The way of those on whom Thou hast bestowed Thy Grace, those whose (portion) is not wrath, and who go not astray.

Tujuan Filsafat Pancasila

Tujuan filsafat pancasila sebagai berikut:
  1. Untuk membentuk kepribadian yang seimbang yaitu keseimbangan dengan unsur intelektual jasmani dan rohani.
  2. Untuk membentuk manusia yang berjiwa pancasila sejati yang taat kepada Tuhan YME, menjunjung keadilan, memiliki kejujuran serta bertanggung jawab.
  3. Untuk menumbuhkan wawasan berfikir integralistik, menjunjung tinggi nilai filosofis dari pancasila serta mampu menerapkan metode ilmiah mempelajari norma-norma/kaidah dan nilai-nilai yang digali dari pancasila.

Indahnya Cinta Abu Dzar Al-Ghifary

Lembah Waddan adalah sebuah area penting yang terletak antara Mekah dan Syam, karena merupakan jalur perlintasan kafilah dagang yang strategis. Di lembah itulah tinggal suku Ghifar yang terkenal. Mereka hidup dari “pajak” yang dipungut pada setiap rombongan kafilah yang melintas, bahkan tak segan merampok kafilah yang tidak membayar sesuai ketentuan yang mereka tetapkan.Pada suatu masa, ada salah seorang anggota suku Ghifar yang mengalami kegelisahan luar biasa karena mendengar selentingan berita tentang nabi baru di kota Mekah. Jundub bin Junadah, nama anggota suku itu yang kemudian dikenal sebagai Abu Dzar, merasakan kegelisahan itu begitu bergelora sampai akhirnya mendorong dirinya berangkat ke Mekah untuk mendatangi langsung sumber beritanya. Singkat cerita, datanglah Abu Dzar ke kota Mekah dan langsung jatuh cinta dengan ajaran Muhammad pada pertemuan pertama.

 
Copyright © Historia Vitae Magistra. Design by Templateezy